|
|
Cloud Airport tampak lebih ramai dari biasanya. Hari ini, secara serentak, murid-murid Kazegami Gakuen dipulangkan ke kota masing-masing.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 a.m. Sebentar lagi, pesawat menuju Malang akan datang, membawa Eri dan Haru kembali ke kota asal mereka.
Haru menyandang tas ranselnya. Sedangkan Eri menutup kopernya yang ribet ditata ulang karena barangnya yang bejibun, dibantu oleh Minmy. “Thanx,” Kata Eri seraya mengelap peluhnya. Minmy hanya tersenyum.
Hawaii merenggangkan tubuhnya, kemudian menutup mulutnya yang menguap, “Hoaaaaammmm….. Ngantuk, nich. Semalam nggak bisa tidur,”
“Bukannya emang tiap malem lo nggak pernah tidur?” Tebak Kuzi yang sebenarnya, sama lelahnya dengan Hawaii.
Hawaii diam. Suasana di sekitar mereka jadi tampak melankolis. “Ini beda! Gw…” Para Hompierz tertegun menatap Hawaii. Dengan sikap lebay a la shoujo manga, Hawaii memeluk Kuzi dari belakang, “Gw ‘kan nggak bisa tidur gara2 mikirin hari iniiii~~~~”
Kuzi menepuk-nepuk tangan Hawaii, “Ini di Airpot, Waii!!! Airport!!” Teriaknya dalam hati.
“Wah, wah, yang ditangisi Cuma Kuma-chan (baca: Kuzi) doang, nich,” Kata Eri dengan senyum manis dan cenderung sangaaaaaaaaat polos. Padahal, dalam hati, “Hooo… Kuma-chan mulu yah, Nee-san?! KUMA-CHAN MULU???!!!”
Hawaii berpindah memeluk Eri. Namun masih dengan sikap acting nangisnya, “Sapa bilang??!!! Gw juga nangisin Eri-chan en semuanya, koook,”
Namine, Hyou, Areen, dan Hompierz lainnya sepakat geleng2 kepala dengan kompak, “Bisa nangis juga, toh,”
“Iya…. Iya…” Eri dengan susah payah menenangkan Hawaii yang memeluknya terlalu kuat sampai gadis itu kehabisan napas dan kejang-kejang hamper sekarat.
Tiba-tibam terdengar suara yang mengungmumkan pesawat menuju Malang akan Take Off.
“Ri,” Panggil Haru.
“Ben… uhuk…. Bentaaaar…” Eri kejang-kejang, berusaha melepas cekikan Nee-san.
“Hawaii, Eri bisa-bisa bukan pergi ke Malang lagi. Ke Surga!!!” Jerit Minmy panic. Hawaii memandang Eri dan langsung melepasnya begitu sadar gadis itu wajahnya mulai memucat, “So…. Sorry~~~~!!!!”
“Uhuk…uhuk….” Eri batuk-batuk sambil memegang tenggorokannya. Tapi, gadis itu masih sempat tersenyum, “Hahahaha…. Dasar Nee-san ini. Ya. udah. Qta cabut dulu,”
“Jangan lupain kita-kita ya, kak,” Kata Amel.
“Hati-hati di jalan,” Kata Foolcoiuz.
“Kalo udah nyampe, sms yah!!” Kata Mei.
Eri sempat berbisik pada Hyou, “Sensei, Eri tetep mohon bantuannya, yah,”
Mendengar Hal itu, Hyou meringis, “Iya, iya,”
Setelah salaman dan banjir tangis, Eri dan Haru-pun berjalan menyusuri koridor menuju pesawat.
Baru setengah perjalanan, seorang gadis mendadak berlari mendekati mereka dengan panic, “Tungguuu~~~!!!! Jangan tinggalin akuuuuu~~!!!!”
“Hah?” Spontan, secara bersamaan, Haru dan Eri menoleh. Ternyata, gadis itu adalah Emochanz.
“Kalian jahat banget ninggalin aku!” Sungutnya. Eri dan Haru meringis. “Maaf, dech,” Ujar Haru. Sambil jalan, Haru dan Eri tertawa geli memandang Emochanz yang cemberut.
Eri menghela nafas seraya tersenyum tipis, “Sudah 8 bulan berlalu sejak aku menginjakkan kaki di kota ini,” Tanpa ia sadari, bersamaan dengan kakinya melangkah memasuki pesawat, pikirannya melayang menuju kenangan masa lalu.
* * *
Categories: None